Aku Melakukannya Lagi

AKU MELAKUKANNYA LAGI!!

Aku tau itu sangat memacu adrenalinku. Kepribadianku yang lainnya sudah mulai muncul, kepribadian yang membuatku menjadi merasa bersalah. Kali ini siapa? Oiya seorang wanita. OH TIDAK! AKU MEMBUNUH SEORANG WANITA!

Siapa yang telah kubunuh? Aku benar-benar sangat lupa. Yang aku ingat hanyalah di saat wanita itu berjalan persis di depanku, dia tersenyum kepadaku. Tapi aku malah melakukan sebaliknya. Apa yang telah kulakukan?! Aku benci sekali saat kepribadian itu keluar dan berinteraksi dengan orang-orang. Kepribadian yang tidak membuatku seperti bukan sebagai seorang wanita.

Apakah wanita itu memiliki keluarga? Bodohnya aku memiliki pertanyaan seperti. Sudah jelas dia punya! Pikiranku mulai kacau dan sedih, sangat sedih. Bagaimana jika wanita itu memiliki seorang anak? Bagaimana jika anaknya itu masih seorang bayi yang masih membutuhkan susunya? Atau bagaimana jika anaknya sudah besar dan sekarang sedang cemas menunggu dia pulang kerumah karena semalaman dia tidak pulang? Pikiranku sangat campur aduk. Yang kuingat hanyalah memuaskan hasratku tadi malam. Dimana kepribadian itu muncul. Kepribadian yang tadinya tidak kumiliki.

Trauma itu, kejadian itu, ya, semua karena kejadian itu hidupku berubah. Menjadi paranoid dan munculnya kepribadian ini. Kepribadian yang beringas yang akan kusesali nantinya disaat aku sudah kembali normal.

Semua bermula ketika diriku memiliki tetangga baru. Aku sangat senang memiliki tetangga baru, teman baru. Aku membayangkan akan muncul seorang wanita karir sepertiku bersama pasangannya, oh iya tidak lupa juga dengan bayinya mendatangi rumahku untuk berkenalan. Jika anak mereka laki-laki Aku akan menjodohkan mereka jauh-jauh hari dengan anakku. Ohhh pikiranku terlalu jauh. Lagipula tahun berapa ini Na? Ini bukan jamannya Siti Nurbaya.

Tok Tokkk!! Ada yang datang sepertinya. Ketukan itu agaknya membuat Tyas menangis. Aku menggendongnya untuk menenangkannya, lalu aku bukakan pintu untuk orang itu, yang mengetuk pintu rumahku.

“Selamat pagi, salam kenal Aku tetangga barumu?” Ucap seorang pria bertubuh kurus sambil membawakan beberapa buah nan banyak. Ia tersenyum kepadaku.

“Hai, namaku Anna. Salam kenal ya. Dan kamu?” Mukaku tampak sedikit memancarkan kekecewaan. Aku tidak tahu apakah laki-laki itu melihatku tampak kecewa karena dia atau tidak.  Aku juga tidak terlalu peduli. Pikiranku yang lalu hanyalah khayalan yang tak terjadi. Sepertinya tetangga baruku hanyalah seorang laki-laki ini.

“Saya Chris” Jawabnya singkat. Oh tidak sepertinya lelaki ini tipe lelaki yang membosankan. Jawabannya sangat singkat. Bahkan ia memakai kata ‘saya’. Itu terlalu formal Chris, aku tidak suka itu. Aku tau dia hanya mengunjungi rumahku karena harus, bukan karena kemauannya.

Ternyata benar. Setelah Aku mempersilahkan Chris masuk untuk sekedar ngobrol sebentar, ternyata memang Chris hanya tinggal sendiri. Dia tidak menikah. Keluarganya ada di luar negeri. Jadi dia sendiri di Jakarta. Dan ternyata benar juga pikirku. Dia memang seorang lelaki yang membosankan. Chris sangat kaku. Ya sudahlah tak perlu dipikirkan lagi. Aku mau bersiap untuk tidur bersama Tyas. Ya, Aku sudah tidak mempunyai suami. Suamiku telah pergi meninggalkanku dan Tyas di saat kami sedang terpuruk dan dia mencampakkan kami. Benar-benar lelaki yang tak bertanggung jawab. Aku hanya berharap dia mati.

Jam berapa ini? Darimana suara berisik itu? Oh sial, ternyata dari tetangga baruku. Baru sehari ia sudah membuatku jengkel. Dengan setengah sadar aku berjalan keluar rumah untuk memberitahukan Chris bahwa apa yang dilakukannya sekarang sangat menggangguku. Aku bahkan tidak mengerti aku mampu keluar rumah dan mengunjungi rumah seseorang tengah malam begini. Dan lagi ini tengah malam, mengapa Chris berisik sekali?

Tok Tokkk!! Udara sangat dingin dan Chris belum juga membukakan pintu. Aku tau ini sangat tidak sopan, tapi aku memalingkan wajahku ke jendela rumah Chris yang tidak dapakaikan gorden. Rumahnya masih berantakan sekali. Masih banyak kardus-kardus dan apa itu? Terdapat bercak merah di lantai. Itu seperti… darah. Aku juga tak terlalu jelas melihatnya, mataku sudah cacat, minus 5 dan sepertinya bertambah. Aku sangat penasaran apa yang dilakukan Chris, tapi dia juga tidak membukakan pintu. Mungkin saking berisiknya Chris tidak mendengar suara ketukanku. Atau mungkin ia juga berpikiran kalau suara ketukan itu hanya ilusinya dia, karena mana ada orang yang berkunjung di tengah malam seperti ini.

Aku berusaha menghiraukan rasa penasaran ini. Aku mulai membalikan badan kembali menuju rumahku, dari luar rumahnya memang sudah tidak terdengar suara yang berisik. Mungkin pekerjaan yang dilakukan Chris sudah selesai. Di saat aku ingin kembali ke rumah dan melakukan langkah pertamaku, lalu terdengar suara… ITU JERITAN! Seorang wanita lebih tepatnya.

Kaget bukan main. Ada apa dirumah Chris? Aku kembali penasaran dan kembali kugedor pintu rumah Chris. Semakin kencang dan kencang. Aku bertekad untuk terus melakukan ini sampai Chris membukakan pintu rumahnya untukku.

“Bukankah ini sudah terlarut malam untuk berkunjung Anna?” Chris telah membukakan pintu untukku. Dia sangat ketus sekali, dan dia sedang memakai sarung tangan. Terdapat bercak yang tak asing kulihat, warna seperti darah. Hatiku agak berdebar-debar.

“Kau mengganggu Chris. Suara berisik itu, apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil mencuri-curi pandangan ke dalam rumahnya.

“Apa yang kau bicarakan? Rumah kita tak benar-benar berdekatan bukan? Aku blok 1 dan kamu blok 3, lagipula jika aku berisik, suara itu tidak akan sampai kerumahmu”. Benarkah yang ia katakan? Aku rasa kalau dia seberisik itupun aku akan tetap terganggu dan suara itu pasti akan sampai kerumahku. Aku juga tidak mungkin berbohong bukan?

“Aku mendengar suara jeritan” Jawabku dengan ketus. Aku sudah tidak ngantuk lagi. Rasa kantukku kalah dengan rasa penasaranku. “Hey apa yang kau bicarakan Anna? Tak ada suara jeritan. Jangan kehilangan akalmu Anna” Mendengar jawaban itu aku malah semakin yakin kalau ada seseorang yang teraniaya disini, ini bukan khalayanku saja kalau ada suara orang menjerit di sini.

Seketika itu juga aku langsung menubruk badan Chris dan berhasil masuk kerumahnya. Aku rasa memang aku tidak salah lihat. Noda di lantai itu berwarna merah dan seperti darah.

“Ini darah bukan!?” Aku sedikit histeris dan jantungku berdegup kencang saat menanyakan itu. Chris menjawab kalau itu hanyalah bekas cat yang tadi dan baru saja ia gunakan. Aku tak percaya. Aku menulusuri rumah Chris seakan Akulah pemiliknya. “Aku tau kau menyembunyikan seseorang Chris, Aku tau kau telah melakukan hal jahat” Aku berkata itu sambil tak menghadap Chris. Sebenarnya aku ini bodoh, sangat bodoh. Bagaimana jika yang Aku katakan itu benar? Dan jika benar bisa saja aku akan jadi mangsa baru Chris. Tapi aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini.

“Hey ini rumahku bukan rumahmu! Ingat itu!” Aku menghiraukan ucapannya. Aku tetap mencari dari ruang ke ruang, Aku tidak akan menyerah sampai aku menemukan apa yang kucari.

“Dasar kau wanita gila!!” Ucap Chris. Hey, apakah aku benar-benar mendengar ia mengucapkan itu? Sebuah perkataan yang selalu kuingat, yang diucapkan oleh mantan suamiku. Aku melihat pisau dapur berada di depan mataku. Aku melemparkannya dengan sangat kencang dan mengenai wajah Chris.

OH TIDAK APA YANG KULAKUKAN?!

Chris tergeletak tepat di depanku. Itu sangat membuatku bergidik ngeri. Oh tidak, aku telah membunuhnya. Oh Tuhan padahal ia baru saja di Jakarta hari ini dan aku telah membunuhnya. Aku tidak percaya melakukan ini, apakah aku benar melakukannya? Aku sangat kacau.

Pagi harinya tidak ada berita menghebohkan di sekitar rumahku. Mayat Chris sudahku bereskan. Aku tidak mengerti di mana maksud dari kata membereskan itu. Aku hanya mampu menaruhnya di dalam lemari tua yang ia punya. Aku tidak punya cukup tenaga dan waktu untuk mengangkat Chris yang untuk ukuranku pastinya sangat berat. Tetapi ada yang aneh dariku. Perasaan itu, perasaan malam itu, sesaat setelah aku terkejut dengan apa yang telah kuperbuat, aku seperti mendapatkan rasa puas yang  benar-benar sangat puas. Beban pikiranku terasa terangkat. Tentu paginya aku sudah tidak merasakan itu kembali dan malah sebaliknya.

Aku takut sekali. Aku takut ketahuan. Aku takut ada bau busuk yang tercium dari rumah Chris. Aku pun juga tidak bisa bolak-balik ke rumah Chris untuk membereskan mayatnya. Aku takut dicurigai, aku sangat paranoid.

Seminggu dari kejadian itu,  tak ada yang mengingat Chris. Seperti Chris lenyap begitu saja. Entah aku harus lega atau harus bagaimana. Yang jelas ini sangat ganjil. Tetapi, seminggu dari kejadian itu, seminggu dari kejadian itu pun…

AKU MELAKUKANNYA LAGI!!

Ya kejadian itu, kejadian di awal semua cerita ini. Wanita itu, wanita yang telah kubunuh. Yang telah kubunuh setelah dia tersenyum kepadaku. Sungguh kejinya diriku. Aku berusaha mengingat-ngingat kejadian malam itu. Aku kemanakan mayat wanita itu? Apakah Aku buang barang-barangnya?

Aku tak kuat lagi. Aku ingin sekali mengunjungi keluarga dari wanita itu. Aku tau, sudah pasti aku akan di caci maki, sudah pasti aku akan dimasukan ke penjara oleh mereka. Tapi Aku tak mau lagi ada korban. Aku tau pasti ada yang aneh dalam diriku. Aku sedih, aku takut.

Aku butuh minum, aku kesulitan untuk bernapas. Aku mencari warung terdekat untuk membeli air putih agar bisa sedikit menenangkan hatiku. Ketika aku merogoh-rogoh isi tas untuk membayar minumanku, aku menemukan KTP wanita itu. Aku menemukannya di… dompetku. Mengapa ada di dompetku? Ini sungguh aneh. Tapi Aku juga tidak terlalu peduli. Dita, dialah wanita itu. Rumahnya lumayan jauh dari rumahku. Aku harus kesana sekarang juga untuk melepaskan rasa takut & rasa bersalah ini.

Inikah rumahnya? Besar sekali. Sudah pasti dia orang kaya. Aku harus benar-benar siap untuk ini. Aku sudah pasrah akan apa jadinya nanti. Aku berharap mereka akan memaafkanku, walaupun akan menjadi sebuah keajaiban jika itu terjadi. Tokk Tokkk !! Ketukanku tidak terlalu kencang. Aku masih berharap jika tidak ada yang akan membukanya. Aku merasa masih belum siap.

Pintu ternyata terbuka. Dia seorang lelaki, tepatnya seorang remaja. Sepertinya berumur 17 tahun. “Maaf ibu cari siapa ya?” Tanya pemuda itu kepadaku. “Disinikah wanita yang bernama Dita tinggal?” Aku bertanya nyaris dengan suara yang sangat pelan.

“Tidak ada wanita yang tinggal disini, bu. Apa benar ini alamatnya wanita yang ibu cari?” Tanya pemuda itu keheranan. TIDAK MUNGKIN AKU SALAH! Aku melihat kembali KTP wanita itu. Benar ini alamatnya. Aku menjadi bingung. Pemuda itu sedikit mencondongkan badannya untuk mengintip KTP yang Aku pegang.  “Bolehkah saya melihatnya bu?” Pemuda itu sangat penasaran sekali.

Aku berikan KTP wanitu itu. Dan kulihat wajah pemuda itu, dia terlihat sangat terkejut.

“Apakah ini KTP ibu? Ibu itu Anna kan? Apa ibu dulu tinggal disini? Apa ada barang yang dulu ibu tinggalkan disini? Apa ibu mau mengambilnya?” Aku diserang berbagai pertanyaan oleh pemuda itu. Mengapa dia bertanya itu. Jelas sekali itu KTP Dita, bukan KTP-ku. Aku sedikit gondok. Langsung kutarik KTP itu dari tangannya tanpa menjawab semua pertanyaannya.

Apa yang terjadi? Ternyata itu KTP-ku. 5 menit yang lalu sepertinya Aku memegang KTP Dita, mengapa sekarang aku memegang KTP-ku? Aku bingung. Aku terdiam. “Sepertinya itu KTP lama ibu, ibu belum memperbaharuinya ya? Ibu pasti dulu tinggal disini ya. Sudah 10 tahun yang lalu ya bu. Ada barang yang tertinggal dirumah ini bu?” Pemuda itu sangat banyak bicara dan aku hanya terdiam dan kebingungan.

Pemuda itu meninggalkanku. Menutup pintu rumahnya. Dia meninggalkanku di tengah kebingunganku. Aku tidak melihat wajahnya saat dia meninggalkanku. Yang pasti dia sangat kesal karena telah dihiraukan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Berarti bukan disinikan rumah Dita? Hey dimana Tyas? Dimana bayiku?

Komentar